Senin, 02 Desember 2013

9.Apakah yang disebut qurban sunnah dan qurban wajib?

Pada dasarnya hukum berqurban adalah sunnah mu’akkadah, sekaligus sunnah kifayah bagi sebuah keluarga dan sunnah ain bagi seorang diri dalam sebuah rumah. Hukum berqurban dapat berubah menjadi wajib manakala ada nadzar bagi mudlohiy atau orang yang berqurban.

Perbedaan qurban wajib dari qurban sunnah, antara lain:

1. Mudlohiy dan keluarga tidak boleh makan sedikitpun daging atau lainnya dari hewan qurban tsb. Dalam qurban sunnah, mudlohiy dan keluarganya boleh makan dagingnya.

2. Hilang hak pemilikan mudlohiy terhadap hewan qurban, sehingga ia tidak boleh menjualnya. Tidak dalam qurban sunnah, mudlohiy boleh menjual hewan qurban dan membatalkan tidak jadi berqurban.

3. Harus disembelih pada waktu yang telah ditentukan. Dalam qurban sunnah hewan qurban boleh dipotong kapan saja selama Idul Adlha dan hari Tasyriq.

4. Jika hewan qurban itu mati karena kelalaian/khilafan mudlohiy sebelum Idul Adlha atau mati saat Idul Adlha dan telah memungkinkan dilakukan penyembelihan, maka mudlohiy wajib menggantinya dengan hewan qurban yang serupa, atau dengan hewan qurban yang harganya sama. Jika dalam qurban sunnah mudlohiy tidak menggatinya.

5. Jika terlewatkan dari waktu yang telah ditentukan belum disembelih, maka harus disembelih sebagai qurban secara qadla’. Sedangkan dalam qurban sunnah, hewan tersebut tidak boleh disembelih diluar Idul Adlha dan hari Tasyrik dengan niat qurban.

Dalam Tanwirul Qulub, hal: 247-248:

فأماالأضحية فسنة مؤكدة لاتجب إلابالنذر .....  وهي سنة كفاية في حق أهل بيت تعددوا وإلا فسنة عين .....  فإن نذر أضحية معينة زال ملكه عنها ولم يجز بيعها..... ولايأكل من لحمهاشيأ وكذا من تلزمه نفقته.... فإن تلفت المنذورة قبل يوم النحر بلاتقصير أوفيه قبل التمكن من ذبحهالم يضمنها و إن أتلفها أو تلفت بعد التمكن من ذبحهاضمنهابأ كثر من الأمرين من قيمتها أوأضحية مثلها فإن زادت القيمة على مثلها تصدق بالفضل

Minggu, 17 November 2013

8. Apakah yang berqurban tidak boleh makan daging hewan qurbannya?



Pada qurban sunnah, mudlohiy / yang berqurban dan keluarganya boleh, bahkan dianjurkan makan daging hewan qurban tersebut untuk keberkahan.
 
Dalam Tanwirul Qulub, hal: 248:

ويندب التصدق بالجميع إلالقما يأ كلها تبركا


“Dan disunnahkan hewan qurban yang telah disembelih itu untuk disedekahkan seluruhnya, kecuali beberapa suapan / kunyah untuk dimakan mudlohiy guna mendapat keberkahan”(Tanwirul Qulub, hal: 248).

Minggu, 27 Oktober 2013

7.Apakah boleh hewan ternak yang masih mengandung disembelih sebagai qurban?



Menurut Imam Ibnu Hajar, hewan ternak yang sedang mengandung tidak boleh disembelih sebagai qurban, sekalipun dengan mengandung hewan tersebut kian bertambah gemuk dagingnya, karena hewan yang sedang mengandung dianggap cacat untuk dijadikan qurban. Berbeda dengan pendapat Imam Abu Mukhramah, yang membolehkan hewan ternak yang sedang hamil dijadikan qurban, sepanjang kehamilannya tidak mengurangi berat dagingnya.

Dalam Bughiyatul Mustarsyidin, hal: 258:

اعتمد ابن حجر في الصح عدم جواز التضحية بالحامل وإن زاد به اللحم لأنه عيب واعتمد ابومخرمة جوازه إن لم يؤثره الحمل نقصا في لحمها 

“Imam Ibnu Hajar berpegang teguh pada pendapat yang sahih, yaitu tidak boleh berqurban dengan hewan hamil, sekalipun hal itu menambah berat dagingnya, karena hal itu merupakan cacat. Dan Imam Abu Mukhramah berpegang pada pendapat diperbolehkannya hewan hamil dijadikan qurban, selama kehamilannya tidak berpengaruh terhadap pengurangan dagingnya” (Bughiyatul Mustarsyidin, hal: 258).