Pada
dasarnya hukum berqurban adalah sunnah mu’akkadah, sekaligus sunnah kifayah
bagi sebuah keluarga dan sunnah ain bagi seorang diri dalam sebuah rumah. Hukum
berqurban dapat berubah menjadi wajib manakala ada nadzar bagi mudlohiy atau orang
yang berqurban.
Perbedaan
qurban wajib dari qurban sunnah, antara lain:
1.
Mudlohiy dan keluarga tidak boleh makan sedikitpun daging atau lainnya dari hewan
qurban tsb. Dalam qurban sunnah, mudlohiy dan keluarganya boleh makan
dagingnya.
2.
Hilang hak pemilikan mudlohiy terhadap hewan qurban, sehingga ia tidak boleh
menjualnya. Tidak dalam qurban sunnah, mudlohiy boleh menjual hewan qurban dan
membatalkan tidak jadi berqurban.
3.
Harus disembelih pada waktu yang telah ditentukan. Dalam qurban sunnah hewan
qurban boleh dipotong kapan saja selama Idul Adlha dan hari Tasyriq.
4.
Jika hewan qurban itu mati karena kelalaian/khilafan mudlohiy sebelum Idul
Adlha atau mati saat Idul Adlha dan telah memungkinkan dilakukan penyembelihan,
maka mudlohiy wajib menggantinya dengan hewan qurban yang serupa, atau dengan
hewan qurban yang harganya sama. Jika dalam qurban sunnah mudlohiy tidak
menggatinya.
5.
Jika terlewatkan dari waktu yang telah ditentukan belum disembelih, maka harus
disembelih sebagai qurban secara qadla’. Sedangkan dalam qurban sunnah, hewan
tersebut tidak boleh disembelih diluar Idul Adlha dan hari Tasyrik dengan niat
qurban.
فأماالأضحية
فسنة مؤكدة لاتجب إلابالنذر ..... وهي سنة
كفاية في حق أهل بيت تعددوا وإلا فسنة عين .....
فإن نذر أضحية معينة زال ملكه عنها ولم يجز بيعها..... ولايأكل من لحمهاشيأ
وكذا من تلزمه نفقته.... فإن تلفت المنذورة قبل يوم النحر بلاتقصير أوفيه قبل
التمكن من ذبحهالم يضمنها و إن أتلفها أو تلفت بعد
التمكن من ذبحهاضمنهابأ كثر من الأمرين من قيمتها أوأضحية مثلها فإن زادت القيمة على مثلها تصدق
بالفضل